Minggu, 13 Mei 2012

pembelajaran konvensional

Nama : Priska Timbangalan
Nim    :10 310 534
kls      : C

Ardhana, et al (2004), dari hasil survei terhadap beberapa SD di Buleleng (Bali) dan Kota Malang menemukan bahwa 80% guru menyatakan paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran sains. Sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6% menyampaikan dengan cara meringkas, serta jarang sekali melakukan pengamatan di luar kelas. Terkait dengan temuan ini, kegiatan mengajar yang dilakukan oleh para guru tersebut merupakan aktivitas menyimpan informasi dalam pikiran siswa yang pasif dan dianggap kosong. Siswa hanya menerima informasi verbal dari buku-buku dan guru atau ahli.
Pengemasan belajar dan pembelajaran seperti tersebut di atas dalam beberapa tulisan (Dunlap & Grabinger, 1996; Grabinger, 1996; Goodman & Kuzmic, 1997; Johnson, 2002; Wilson, 1996) diistilahkan sebagai pembelajaran konvensional atau tradisional.
Freire (1999) memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal. Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka.
Burrowes (2003) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) tidak ada kelompok-kelompok kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis. Menurut Brooks & Brooks (1993), penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada tujuan pembelajaran berupa penambahan pengetahuan, sehingga belajar dilihat sebagai proses “meniru” dan siswa dituntut untuk dapat mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari melalui kuis atau tes terstandar.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam perkataan lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah dan/atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dari ketuntasannya menyampaikan seluruh materi yag ada dalam kurikulum. Penekanan aktivitas belajar lebih banyak pada buku teks dan kemampuan mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Jadi, pembelajaran konvensional kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities).
Berdasarkan definisi atau ciri-ciri tersebut, penyelenggaraan pembelajaran konvensional merupakan sebuah praktik yang mekanistik dan diredusir menjadi pemberian informasi. Dalam kondisi ini, guru memainkan peran yang sangat penting karena mengajar dianggap memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar (pebelajar). Dengan kata lain, penyelenggaraan pembelajaran dianggap sebagai model transmisi pengetahuan (Tishman, et al., 1993). Dalam model ini, peran guru adalah menyiapkan dan mentransmisi pengetahuan atau informasi kepada siswa. Sedangkan peran para siswa adalah menerima, menyimpan, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi yang diberikan.
Pembelajaran yang didasarkan pada asumsi-asumsi menurut model transmisi memandang bahwa pengetahuan terdiri dari potongan-potongan fakta (O’Malley & Pierce, 1996). Siswa mempelajari pengetahuan atau keterampilan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Diasumsikan bahwa penguasaan terhadap pengetahuan atau keterampilan yang kompleks dapat dicapai secara langsung apabila siswa sebelumnya telah mempelajari bagian-bagian pengetahuan tersebut (Oliver & Hannafin, 2001). Dalam kondisi ini para siswa harus secara cepat dan seksama melalui aktivitas-aktivitas mendengarkan, membaca, dan mencatat untuk memperoleh informasi. Terkadang para siswa perlu juga melakukan aktivitas laboratorium dan/atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan informasi tersebut. Di sisi lain, guru berperan memproses pengetahuan dan/atau keterampilan yang diperlukan para siswa. Terhadap pemrosesan pengetahuan atau keterampilan tersebut, guru terkadang perlu menambahkan penguatan berupa gambar, simbol, tabel, atau jenis yang lain sebagai sumber belajar. Sumber belajar tersebut sebagian besar sifatnya tekstual (bukan kontekstual).
Sumber belajar dalam pendekatan pembelajaran konvensional lebih banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku dan penjelasan guru atau ahli. Sumber-sumber inilah yang sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Oleh karena itu, sumber belajar (informasi) harus tersusun secara sistematis mengikuti urutan dari komponen-komponen yang kecil ke keseluruhan (Herman, et al., 1992; Oliver & Hannafin, 2001) dan biasanya bersifat deduktif. Oleh sebab itu, pembelajaran diartikulasikan menjadi tujuan-tujuan berupa prilaku yang diskrit. Apa yang terjadi selama proses belajar dan pembelajaran jauh dari upaya-upaya untuk terjadinya pemahaman. Siswa dituntut untuk menunjukkan kemampuan menghafal dan menguasai potongan-potongan informasi sebagai prasyarat untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks. Artinya bahwa siswa yang telah mempelajari pengetahuan dasar tertentu, maka siswa diharapakan akan dapat menggabungkan sub-sub pengethauan tersebut untuk menampilkan prilaku (hasil) belajar yang lebih kompleks. Berdasarkan pandangan ini, pembelajaran konvensional merupakan aktivitas belajar yang bersifat linier (O’Malley & Pierce, 1996) dan deterministik (Burton, et al., 1996).
Pembelajaran yang bersifat linier didesain dengan kerangka kerja berupa serangkaian aktivitas belajar dalam suatu tata urutan yang sistematis dan hasil belajar (berupa prilaku) yang dapat ditentukan secara pasti (deterministik) serta teramati. Beberapa prinsip yang melatar belakangi desian pembelajaran linier adalah: (1) mengidentifikasi dan merumuskan tujuan pembelajaran, (2) hasil belajar yang diharapkan harus terukur serta sesuai dengan standar validitas dan reliabilitas, dan (3) desain berorientasi pada perubahan tingkah laku pebelajar.
Berdasarkan prinsip desain pembelajaran tersebut di atas, maka prosedur pembelajaran konvensional yang diimplementasikan dalam penelitian ini disusun mengikuti urutan-urutan sebagai berikut: (1) mengidentifikasi indikator keberhasilan, yang selanjutnya dituangkan menjadi tujuan pembelajaran, (2) merancang dan menyusun isi bahan ajar konvensional (teks ajar dan LKS), (3) merancang dan menyusun instrumen tes untuk mengukur hasil belajar (pemahaman konsep dan ketertampilan berpikir kritis), (4) merancang dan menyusun skenario pembelajaran, (5) mengimplementasikan program pembelajaran, dan (6) melaksanakan evaluasi. Implementasi program pembelajaran terdiri dari langkah-langkah, yaitu (a) apersepsi, (b) penjelasan konsep, dengan metode ceramah dan/atau demonstrasi, (c) latihan terbimbing, (d) memberikan balikan (feed back). Keseluruhan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran ini menggunakan latar (seting) belajar diskusi kelompok-kelompok kooperatif.
Milik dan karya: I Wayan Sukra Warpala
 

Metode Pembelajaran Konvensional

METODE PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
A.  Pendahuluan
Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Pengertian lain adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran pada siswa di dalam kelas, baik secara individual maupun secara kelompok. Agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik.
Belajar mengajar sebagai suatu kegiatan, seiring dengan adanya makhluk manusia di muka bumi ini, sejak semula kegiatan belajar mengajar ini telah dilakukan oleh manusia bahkan dalam batas-batas tertentu juga hewan, dalam upaya membimbing anak keturunannya agar berhasil dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
B.     Pembahasan
1.      Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan, ketika berfikir informasi dan kompetensi apa yang dimaksud oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berfikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efesien. Ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap guru, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya. Seorang guru dituntut untuk menguasai metode pembelajaran yang dilakukannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal.[1]
Banyak defenisi mengenai metode pembelajaran ini yang dijumpai dalam berbagai literatur Muhammad Atiyah Al-Abrasyi, mendefenisikan “jalan yang harus diikuti untuk memberikan kefahaman bagi peserta didik segalam macam pelajaran dalam segala mata pelajaran”.
Dari berbagai defenisi mengenai metode pembelajaran yang telah dikemukakan dapat disimpulkan dalam kalimat pendek bahwa metode ialah jalan atau cara-cara yang digunakan pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran.[2]
2.      Metode Pembelajaran Konvensional
Salah satu model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvesional. Pembelajaran konvensional mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli, diantaranya:
  1. Djamarah (1996), metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan.
  2. Freire (1999), memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan pendidikan ber “gaya bank” penyelenggaraan pendidikan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal.[3] 3.      Ciri-ciri Pembelajaran Konvensional
Secara umum, ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah:
  1. Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar.
  2. Belajar secara individual
  3. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
  4. Perilaku dibangun atas kebiasaan
  5. Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final
  6. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
  7. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
  8. Interaksi di antara siswa kurang
  9. Guru sering bertindak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Namun perlu diketahui bahwa pengajaran model ini dipandang efektif atau mempunyai keunggulan, terutama:
  1. Berbagai informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain
  2. Menyampaikan informasi dengan cepat
  3. Membangkitkan minat akan informasi
  4. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan
  5. Mudah digunakan dalam proses belajar mengajar.
Sedangkan kelemahan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
  1. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan
  2. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari
  3. Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu
  4. Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas
  5. Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal.[4] 4.      Ciri-ciri Umum Metode yang Baik
Setiap guru yang akan mengajar senantiasa dihadapkan pada pilihan metode. Banyak macam metode yang bisa dipilih guru dalam kegiatan mengajar, namun tidak semua metode bisa dipilih guru dalam kegiatan mengajar. Dan tidak semua pula metode dikatakan jelek. Kebaikan suatu metode terletak pada ketatapan memilih sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Omar Muhammad Al-Toumi mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode yang baik untuk pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu:
  1. Berpadunya metode suatu tujuan dan alat dengan jiwa dan ajaran akhlak islami yang mulia.
  2. Bersifat luwes, fleksibel dan memiliki daya sesuai dengan watak siswa dan materi siswa pada kemampuan praktis.
  3. Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktik dan mengantarkan siswa pada kemampuan praktis.
  4. Tidak mereduksi materi tapi bahkan mengembangkan materi.
  5. Memberikan keleluasaan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya.
  6. Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat dan terhormat dalam keseluruhan pembelajaran.[5] 5.      Pendekatan Pembelajaran Konvensional
Menurut Ujang Sukandi (2003), mendefenisikan bahwa pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Disini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pentransfer ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu.
Sedangkan menurut Philip R. Wallace, pendekatan pembelajaran dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang konservatif apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Otoritas seorang guru lebih diutamakan dan berperan sebagai contoh bagi muri-muridnya.
  2. Perhatian kepada masing-masing individu atau minat sangat kecil
  3. Pembelajaran di sekolah lebih banyak dilihat sebagai persiapan akan masa depan, bukan sebagai peningkatan kompetensi siswa di saat ini.
  4. Penekanan yang mendasar adala pada bagaimana pengetahuan dapat diserap oleh siswa dan penguasaan pengetahuan tersebutlah yang menjadi tolak ukur keberhasilan tujuan, sementara pengembangan potensi siswa terabaikan.[6]
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran, penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan), dan doing direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung). Dalam kata lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode ceramah atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat. Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dair ketuntasannya menyampaikan seluruh meteri yang ada dalam kurikulum.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pendekatan konvensional dapat dimaklumi sebagai pendekatan pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru, komunikasi lebih banyak satu arah dari guru ke siswa, metode pembelajaran lebih pada penguasaan konsep-konsep bukan kompetensi.[7]
Seorang guru dituntut untuk menguasai berbagai model-model pembelajaran, dimana melalui model pembelajaran yang digunakannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya dari proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal.
Memang, model pembelajaran konvensional ini tidak harus kita tinggal, dan guru mesti melakukan model konvensional pada setiap pertemuan, setidak-tidaknya pada awal proses pembelajaran dilakukan. Atau kita memberikan kepada anak didik sebelum kita menggunakan model pembelajaran yang akan dipergunakan.[8]
6.      Macam-macam Metode
Ada beberapa macam metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya:
  1. Metode Ceramah
Metode ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan dan pengajaran yang cara menyampaikan pengertian-pengertian materi pengajaran kepada anak didik dilaksanakan dengan lisan oleh guru di dalam kelas. Peranan guru dan murid berbeda secara jelas, yaitu guru terutama dalam menuturkan dan menerangkan secara aktif, sedangkan murid mendengarkan dan mengikuti secara cermat serta mencatat pokok persoalan yang diterangkan oleh guru-guru. Dalam metode ceramah ini peranan utama adalah guru. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan metode ceramah bergantung pada guru tersebut.[9]
  1. Metode Tanya Jawab
Metode ini adalah metode di dalam pendidikan dan pengajaran dimana guru bertanya sedangkan siswa menjawab tentang bahan metari yang ingin diperolehnya. Metode ini layak dipakai bila dilakukan sebagai ulangan pelajaran yang telah lalu, sebagai selingan dalam menjelaskan pelajaran, untuk merangsang siswa agar perhatian mereka lebih terpusat pada masalah-masalah yang sedang dibicarakan, dan untuk mengarahkan proses berfikir siswa.
  1. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan menggunakan alat peraga (meragakan), untuk memperjelas suatu pengertian, atau untuk memperlihatkan bagaimana untuk melakukan dan jalannya suatu proses pembuatan tertentu kepada siswa.[10]
Sedangkan di karangan Prof. Dr. Made Pidarta, demonstrasi adalah suatu alat peraga atau media pengajaran yang dipakai bermacam-macam bergantung kepada materi yang akan didemonstrasikan.[11]
  1. Metode Kerja Kelompok
Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas di bagi ke dalam beberapa kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Pengelompokan biasanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan bersama.
  1. Metode Karyawisata
Metode ini adalah suatu metode pengajaran yang dilakukan dengan mengajak para siswa keluar kelas untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan pokok bahasan. Dan metode ini memiliki kelebihan, seperti memberi perhatian lebih jelas dengan peragaan langsung, mendorong anak mengenal lingkungan dan tanah airnya.[12]
Kemudian, jika dilihat secara garis besarnya, metode mengajar dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yakni:
    1. Metode mengajar konvensional
Metode ini adalah metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru atau sering disebut metode tradisional.
    1. Metode mengajar inkonvensional
Metode ini adalah suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan secara umum, seperti metode mengajar modul, berprogram, pengajaran unit, masih merupakan metode yang baru dikembangkan dan diterapkan dibeerapa sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan media yang lengkap serta guru-guru yang ahli menanganinya.[13]
7.      Tujuan Metode Pengajaran
Untuk menguraikan tujuan metode pengajaran, dikemukakan oleh Omar Muhammad Al-Taumy yang dikutip Ramayulis sebagai berikut:
  1. Menolong pelajar untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan sikapnya.
  2. Membiasakan siswa menghafal, memahami, berfikiran sehat, memperlihatkan dengan tepat, mengamati dengan tepat, rajin, sabar dan teliti dalam menuntut ilmu.
  3. Memudahkan proses pengajaran itu bagi pelajar dan membuatnya mencapai sebanyak mungkin tujuan yang diinginkannya.
  4. Menciptakan suasana yang sesuai dengan pengajaran yang berlaku, sifat percaya-mempercayai dan hormat-menghormati antara guru dan murid serta hubungan baik antara keduanya.[14]

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi. Abu, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Pidarta. Made, Cara Belajar Mengajar di Universitas Negara Maju, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.
Rostiya, Didaktik Metodik, Jakarta: Bina Aksara, 1989.
Usman. Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Wijaya. Wina,  Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Kencana, 2008.
www.goegle.co.id,http://iyasphunkalfreth.blogspot.com / 2010 / 06 / perbandingan metode pembelajaran. htlm.
www.gogle.co.id,http://sunartobs.wordpress.com/2009/03/02.
www.google.co.id.http//warpalah edukasi. Kompasiana.com/2009/12/20.
www.google.co.id.http://forum.um.ac.id/index.php.
Yusuf. Tayar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

 
Keefektifan Model Pembelajaran Piaget dan Yang Konvensional
terhadap Kemampuan Komposisi Naratif Bahasa Bali
pada Siswa Kelas IV dan VI SD 1 Sangsit di Sawan

  Oleh

I Dewa Putu Raka Rasana
ABSTRAK

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penggunaan model pembelajaran Piaget terhadap kelompok eksperimen  dan model pembelajaran

konvensional terhadap kelompok kontrol dalam menulis komposisi naratif bahasa Bali
di SD 1 Sangsit kecamatan Sawan, kabupaten Buleleng. Yang menjadi  subjek dalam penelitian  ini adalah semua siswa kelas IV A yang berjumlah 20  orang sebagai kelompok kontrol, semua siswa kelas IV B yang berjumlah 20  orang sebagai kelompok eksperimen, semua siswa kelas VI A yang berjumlah 23 orang sebagai kelompok eksperimen, dan semua siswa kelas VI B yang  berjumlah 23 orang sebagai kelompok kontrol.
 Berdasarkan proses pelaksanaan penelitian, instrumen penelitian telah
diujicobakan  pada 161 siswa kelompok Piaget dan 161 siswa kelompok konvensional di empat SD di kecamatan Sawan. Sebelum perlakuan diberikan pada 86 siswa SD 1 Sangsit tersebut,  mereka  diberikan prates untuk mengetahui kemampuan awal mereka. Perlakuan  diberikan dalam 7 kali pertemuan yang dilakukan oleh guru kelas setelah ia  diberikan pelatihan tentang cara-cara menerapkan model pembelajaran Piaget. Mereka diberikan 7 kali perlakuan  dan perlakuan-perlakuan tersebut dianggap sebagai latihan. Setiap perlakuan yang diberikan didasarkan pada rancangan pembelajaran yang telah dibuat baik untuk kelompok Piaget di kelas  IV dan VI maupun kelompok konvensional di kelas IV dan VI. Hasil yang diperoleh berupa skor pascates yang diberikan oleh 3 interraters dan dianalisis dengan ANOVA dua jalur. Penskoran dilakukan berdasarkan kriteria penilaian yang diberikan oleh McKeough dan Case.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model pembelajaran Piaget lebih efektif  dibandingkan model pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali, (2) prestasi belalajar siswa yang berusia 10 tahun tidak berbeda dari yang berusia 12 tahun, dan (3)  tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat usia terhadap prestasi belajar  dalam menulis komposisi nartif bahasa Bali.            
Kata-kata kunci:  keefektifan, model pembelajaran, komposisi naratif

ABSTRACT


This study aimed at finding out the effectiveness of the use of Piaget’s  learning
model towards the experimental group  and conventional  learning model towards the control group in writing  narrative composition  in Balinese  language at elementary school 1 in Sawan district, Buleleng regency. The subjects were all the fourth  year students of class IVA consisting of 20 persons as control group, all the fourth year students of class IVB consisting of 20 persons as experimental group, all the sixth year students of class VIA consisting of 23 persons as experimental group, and all the sixth year students of class VIB consisting of 23 persons as control group.
 Based on the implementation process of the research, the research instrument had been tried out in 161 students of Piaget’s group and 161 students in conventional group at 4 elementary schools in Sawan district. Before the treatment given to  86 students at elementary school 1  in Sangsit, they were given pretest in order to know their entry behavior. The treatments were given in 7 sessions done by a class teacher after she had been given a training about the ways of applying Piaget’s learning model. They had been given  7 treatments  and the treatments were considered as a training. Every given treatment was based on  the made learning plan for Piaget’s group and conventional group in class IV and VI. The results gained in the research were in the forms of score given by 3 inter-raters and they were analyzed by the use of  Two Way ANOVA. The scoring done in the research was based on the scoring criteria given by McKeough and Case.
The research result showed that  (1) Piaget’s model of teaching  was more effective than the conventional model of teaching  towards the learning achievement of Balinese narrative composition, (2) the learning achievement of the ten year old student  was not different  from that of  the twelve year old one, and (3) there was no  interaction  between the models of teaching with the chronological age  towards  the learning achievement  of Balinese  narrative composition.    
Key words: effectiveness, learning model,  narrative composition

1. Pendahuluan

            Model pembelajaran konvensional sampai saat ini masih banyak digunakan dalam pembelajaran komposisi naratif  bahasa Bali di Provinsi Bali.  Penerapan model pembelajaran tersebut ditandai dengan pemberian informasi, dilanjutkan dengan tanya jawab, pemberian tugas oleh guru, pelaksanaan tugas oleh siswa, sampai pada akhirnya guru merasa bahwa apa yang telah diajarkan dapat dimengerti oleh siswa (Putrayasa, 2001). Siswa bersifat pasif. Ceramah mendominasi kegiatan belajar mengajar yang menekankan hafalan (ingatan) tersebut (Sulaeman, 1988). Akibatnya, terjadi kemerosotan prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, diperlukan model pembelajaran  yang secara optimal dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam menulis komposisi naratif bahasa Bali.
            Model pembelajaran  yang digunakan  dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Piaget. Model pembelajaran Piaget  adalah model pembelajaran yang didasarkan pada teori perkembangan kognitif  Piaget yang di dalamnya  mengandung  sintaks (syntax), prinsip-prinsip reaksi,  sistem sosial, dan sistem dukungan. Sintaks adalah urutan kegiatan (tasks) yang diberikan guru, agar terjadi konflik kognitif dan inkuiri. Prinsip-prinsip  reaksi  berfokus pada kegiatan (tasks) yang membentuk perilaku melalui  rewarding, memelihara  sikap netral , dan sikap yang nonevaluative. Sistem  dukungan merupakan fasilitas di luar kemampuan dan kapabilitas  guru. Hal ini menyebabkan siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Piaget, tahap kegiatan belajar berlangsung dalam 2 kegiatan inti. Kegiatan pertama adalah sebagai berikut: (1) Guru menyampaikan tujuan belajar, (2) Siswa aktif melakukan diskusi, saling membantu, dan kerja sama untuk memahami narasi yang mengandung masalah dan pemecahannya setelah diberikan gambar dan teksnya oleh guru, dan (3) Siswa didorong bertanya kepada guru, apabila siswa tersebut tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari teman sejawat. Kegiatan kedua adalah sebagai berikut: (1) Siswa ditugaskan menulis narasi yang mengandung masalah dan pemecahannya secara individual berdasarkan topik dan gambar  yang berbeda dari topik dan gambar yang diberikan dalam kegiatan pertama dan (2) Siswa diberikan waktu secara singkat untuk melakukan perbaikan.
            Atas dasar itu, penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui  keefektifan kedua model pembelajaran tersebut dengan menerapkan model pembelajarn Piaget  dalam kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional dalam kelompok kontrol dengan   pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut: (1)  apakah  model pembelajaran Piaget dan model pembelajaran konvensional  memberi keefektifan  yang  berbeda terhadap prestasi belajar kmposisi naratif bahasa Bali, (2) apakah siswa yang berusia 12 tahun memperoleh prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali  yang berbeda  dibandingkan dengan siswa yang berusia 10 tahun,   dan (3) apakah ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat usia terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali?
            Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, hipotesis-hipotesis penelitian yang diuji adalah sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan antara siswa yang diajar melalui  model pembelajaran Piaget dan  model pembelajaran konvensional terhadap  prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali,  (2) Terdapat perbedaan  prestasi belajar  komposisi naratif bahasa Bali  antara yang diperoleh siswa   berusia  10 tahun dan  yang 12 thun, (3) Terdapat  interaksi  antara model pembelajaran dengan tingkat usia terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali.    

2. Metode Penelitian

2.1 Subjek Penelitian
             Penelitian  dilakukan  di SD 1 Sangsit, Kecamatan Sawan. Jumlah siswa yang dilibatkan dalam penelitian ini sebanyak 86 orang yang terdiri dari: (1) 20 orang di kelas IV A sebagai kelompok kontrol, (2) 20 orang di kelas IV B sebagai kelompok eksperimen, (3) 23 orang di kelas VI A sebagai kelompok eksperimen, dan (4) 23 orang di kelas VI B sebagai kelompok kontrol.
2.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 1 variabel bebas, yakni model pembelajaran dengan 2 dimensi variabelnya, yakni model pembelajaran Piaget dan model pembelajaran konvensional, 1 variabel moderator, yakni usia, dan 1 variabel tergantung, yakni prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali.
2.3 Rancangan Penelitian
            Sejalan dengan pengujian 3 hipotesis penelitian, maka rancangan eksperimen faktorial (2 X 2) digunakan untuk menguji ketiga hipotesis tersebut sekaligus  yang ditunjukkan dalam tabel  3.1 berikut:    
                                                            Tabel 3.1: Rancangan Eksperimen Faktorial
                                                                 
Keterangan: P = perlakuan P1= model pembelajaran Piaget  P2 = model pembelajaran
                        Konvensional   U = usia   U1 =  siswa kelas IV yang berusia 10 tahun
                        U2 = siswa kelas VI yang berusia 12 tahun
2.4 Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
            Hal-hal yang berkaitan dengan instrumen penelitian adalah sebagai berikut: (1) prates dan pascates, (2) uji coba instrumen, (3) validitas instrumen,  dan (4) realibitas instrumen. Data ini dikumpulkan melalui teknik tes. Tes yang digunakan adalah prates dan pascates.
            Berdasarkan proses pelaksanaan penelitian, instrumen penelitian telah diujicobakan pada 161 siswa kelompok Piaget dan 161 siswa kelompok konvensional di empat SD. Sebelum perlakuan diberikan pada 86 siswa di SD 1 Sangsit tersebut,  mereka diberikan prates untuk mengetahui kemampuan awal mereka. Perlakuan diberikan dalam 7 kali pertemuan yang dilakukan oleh guru kelas  setelah ia diberikan pelatihan tentang cara-cara menerapkan model pembelajaran Piaget. Mereka diberikan 7 kali perlakuan dan perlakuan-perlakuan tersebut dianggap sebagai latihan. Setiap perlakuan yang diberikan didasarkan pada rancangan pembelajaran yang telah dibuat baik untuk kelompok Piaget di kelas IV dan VI maupun kelompok konvensional di kelas IV dan VI. Hasil yang diperoleh berupa skor diberikan oleh 3 interraters.  Kemudian mereka diberikan pascates. Hasil pascates juga berupa skor yang diberikan 3 penilai. Penskoran dilakukan berdasarkan kriteria penilaian yang diberikan oleh McKeough dan Case (1986). Sebelum pengujian hipotesis-hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan ANOVA dua jalur, uji normalitas data terhadap skor pascates, dan uji homogenitas varians perlu dilakukan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak dan varians populasi dalam penelitian ini sama atau tidak.
2.5 Teknik Analisis Data
            Komposisi  naratif yang telah dibuat  siswa  dianalisis dengan menggunakan panduan penilaian sebagai berikut:


3. Hasil  Penelitian dan Pembahasan  

3.1 Hasil Penelitian
            Berdasarkan proses pelaksanaan penelitian, instrumen penelitian perlu diujicobakan dan uji coba instrumen itu dilakukan pada empat SD, yakni SD 4 Sangsit, Sd 8 Sangsit, SD 1 Jagaraga, dan SD 3 Jagaraga yang melibatkan 161 kelompok Piaget dan 161 kelompok konvensional. Ternyata hasilnya valid  (memiliki bukti pendukung validitas construct dan isi) dan reliable. Bukti pendukung validitas construct bersumber dari tes yang digunakan yang berupa bentuk tugas  atau kegiatan (tasks) yang diminta oleh tes tersebut kepada mereka yang sedang mengerjakan tes itu. Bukti pendukung validitas isi dapat dilihat dari cakupan aspek yang dinilai dalam komposisi naratif  bahasa Bali yang ditulis siswa  cukup beragam yang meliputi penyampaian masalah, pemecahan masalah, hambatan yang ditemukan dalam pemecahan  masalah, dan pernyataan psikologis. Reliabilitas tersebut didasarkan pada perhitungan statistik dengan bantuan komputer yang hasilnya ternyata  > 0,70.
            Hasil uji normalitas data skor pascates untuk semua kelompok  menunjukkan bahwa skor  berdistribusi normal. Hasil uji varians  juga menunjukkan bahwa varians populasi dalam penelitian ini mempunyai varians yang sama di antara anggota kelompok. Pengujian hipotesis-hipotesis penelitian dengan menggunakan ANOVA dua jalur dengan bantuan komputer dan ringkasan hasilnya terlihat pada tabel 3.3  berikut:
Tabel 3.3  Ringkasan Hasil ANOVA Dua Jalur

            Prestasi Belajar Komposisi Naratif Bahasa Bali  

 

  Sumber Varians            Jk                       db                     Rjk                        F                      Sig.
 
  Antar A                        90,047                 1                   90,047                    132,295            0,000
  
  Antar B                          0,40                    1                    0,40                          0,59               0,808

  Inter AB                        0,53                    1                    0,53                         0,79                0,780

  Terjelaskan                   90,140                 3                  30,047    

  Sisa                              55,813                82                  0,681

 

  Total                          145,953                85                 1,717  

 


Keterangan:
            Jk = jumlah kuadrat   db  = derajat kebebasan   Rjk = rata-rata kuadrat
            A = model pembelajaran   B = usia

            Isi tabel 1 mendukung keputusan statistik yang diambil dari analisis data prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali yang konsisten mengenai keefektifan antar A dengan kesimpulan sebelumnya. Model pembelajaran (antar A) menunjukkan bahwa rasio F adalah signifikan dengan F 132,295 (p < 0,05), sedangkan antar B ditemukan tidak signifikan dengan F 0,59 (p > 0,05). Rasio inter AB (F = 0,79) juga ditemukan tidak signifikan. Dengan demikian , Ho pertama ditolak, sedangkan Ho kedua dan ketiga diterima.  Kesimpulan yang dapat diambil adalah model pembelajaran Piaget berbeda keefektifannya terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali juga teruji tidak berbeda yang disebabkan oleh perbedaan usia. Kesimpulan lainnya adalah tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat usia terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali. Artinya, model pembelajaran Piaget lebih efektif  dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali pada siswa kelas IV dan VI.
3.2 Pembahasan   
Model Pembelajaran Piaget versus Model Pembelajaran Konvensional
            Dari hasil pengujian hipotesis-hipotesis penelitian, diperoleh bukti bahwa perolehan belajar atau prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali siswa yang mengikuti model pembelajaran Piaget  berbeda secara signifikan dengan prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Hal ini berarti bahwa model pembelajaran Piaget lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali pada siswa kelas IV dan VI. Temuan ini mendukung sepenuhnya temuan penelitian Mckeough dan Case (1986) yang menyimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis komposisi naratif  dapat ditingkatkan melalui penerapan teori perkembangan intelek Piaget. Temuan ini juga sebagian  besar mendukung temuan Wittrock (1978) yang menyimpulkan bahwa siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan aspek kognitif yang lebih tinggi cenderung reflektif, berpikir lebih lama sebelum menjawab pertanyaan peneliti, mengabaikan hal-hal yang tidak relevan dan secara relatif mampu menjawab pertanyaan dengan benar lebih banyak. Di samping itu, temuan ini juga mendukung temuan Kamii dan De Vries dalam Joyce dan Weil (1996) yang menyimpulkan bahwa  program yang didasarkan pada teori perkembangan intelek Piaget dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada anak.
            Menurut Hudojo (1990), Piaget mengatakan bahwa tahap-tahap berpikir itu adalah pasti dan spontan, namun umur kronologis yang diberikan itu adalah fleksibel, terutama selama masa transisi dari periode satu ke periode berikutnya. Umur kronologis itu dapat saling tindih. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian, ternyata usia  tidak memberi pengaruh terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali, yakni prestasi belajar  yang diperoleh siswa yang berusia  12 tahun  ternyata tidak berbeda dari yang diperoleh siswa yang berusia 10 tahun. Temuan ini cenderung mendukung pendapat Piaget yang disampaikan oleh Hudojo (1990) tersebut.
            Hasil pengujian hipotesis tersebut juga  menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat usia terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali. Interaksi adalah kerja sama dua variabel bebas atau lebih dalam mempengaruhi suatu variabel tergantung. Interaksi terjadi jika  suatu variabel bebas memiliki efek-efek yang berbeda terhadap suatu variabel tergantung pada berbagai tingkat dari suatu variabel bebas lainnya. Dalam penelitian ini terungkap bahwa tidak ada interaksi.  Ini berarti bahwa  model pembelajaran bekerja sendiri-sendiri dalam mempengaruhi prestasi belajar.     
4. Penutup
            Bertitik tolak dari hasil analisis dan pembahasan di atas,  kesimpulan-kesimpulan yang  dapat ditarik  dari hasil pengujian hipotesis-hipotesis penelitian adalah sebagai berikut: (1) Model pembelajaran Piaget  lebih efektif  dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional  terhadap prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali pada siswa kelas IV dan VI, (2) prestasi belajar komposisi  naratif bahasa Bali  siswa yang berusia 12 tahun tidak berbeda dari prestasi belajar komposisi naratif  bahasa Bali siswa yang berusia 10 tahun, dan  (3) tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat usia  terhadap prestasi belajar  komposisi naratif bahasa Bali.  Dalam kasus ini, model pembelajaran Piaget lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.
            Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas,  maka disarankan  hal-hal sebagai berikut: (1) Kepada guru SD disarankan menerapkan model pembelajaran Piaget sesuai dengan langkah-langkah yang dianjurkan sebagai salah satu model pembelajaran alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar komposisi naratif bahasa Bali, (2) Kepada guru SD disarankan agar mengorganisasi kembali buku teks komposisi naratif bahasa Bali seperti yang terlihat dalam rancangan model  pembelajaran Piaget, dan (3) Aspek yang diteliti dalam penerapan model pembelajaran Piaget dalam kegiatan pembelajaran komposisi naratif bahasa Bali di SD terbatas pada aspek kognitif, sedangkan aspek-aspek lain seperti aspek sikap dan moral tidak dilibatkan. Menurut Piaget, aspek-aspek tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan intelek siswa. Kenyataan ini diduga berpengaruh untuk mengurangi sumbangan optimal model pembelajaran Piaget. Walaupun hasil pengujian hipotesis telah menunjukkan  bahwa model pembelajaran Piaget secara signifikan lebih unggul dari model pembelajaran konvensional, prestasi belajar mungkin akan lebih tinggi lagi, apabila aspek-aspek lainnya juga dilibatkan. Dengan demikian disarankan agar model pembelajaran Piaget diuji lagi dengan bentuknya yang lebih lengkap, sehingga potensi optimal  model pembelajaran Piaget dapat dijelaskan.
Daftar Pustaka
Ferguson, G.A. 1976. Statistical Analysis in Psychology and Education (4th ed).
            Montreal: McGraw Hill Book Company.
Ginsburg, H., & Opper, S. 1969. Piaget’s Theory of Intellectual Development
            Boston: Prentice-Hall, Inc.
Joyce, B., & Weil, M. 1972. Models of Teaching. Boston: Prentice-Hall, Inc.
Latief, M. A. 1996. Pengukuran Kemampuan Menulis (Tanggapan terhadap
            Tulisan Ahmad Rofi’uddin pada Edisi Tahun 23, Nomor 1 Februari 1995).
            Dalam Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya, 24 (1), 58-73.
Hudojo, H. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. IKIP Malang.
McKeough, A., & Case, R. 1986. A Neo-Piagetian Analysis of Narrative Composition
            and Its  Application to Instruction. Calgary: The University of Calgary Press.
McCrimmon, J. M. 1984. Writing with a Purpose (8th ed.). Boston: Houghton Mifflin
            Company.
Putrayasa, I. B. 2001. Penerapan Model Inkuiri dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
            (Studi Eksperimen dalam Pembelajaran Kalimat pada Siswa Kelas I SLTP
            Negeri I Singaraja). Disertasi  yang tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana
            Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Sulaeman, D. 1988. Teknologi/Metodologi Pengajaran. Jakarta: PPLPTK.
Sutama, M. 1997. Perkembangan Koherensi Tulisan Siswa Sekolah Dasar. Disertasi
            yang tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Malang. 
Wittrock, M. C. 1978. The Cognitive Movement in Instruction. Journal of
            Educational Psychologist, 13 (2), 15-29.


















 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar